<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tanya Jawab Syariah</title>
	<atom:link href="http://tanyasyariah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tanyasyariah.wordpress.com</link>
	<description>Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan baginya niscaya akan dipahamkan agama</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Dec 2007 04:47:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tanyasyariah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tanya Jawab Syariah</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tanyasyariah.wordpress.com/osd.xml" title="Tanya Jawab Syariah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tanyasyariah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Logika Tawassul (Revisi)</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/30/logika-tawassul/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/30/logika-tawassul/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 10:57:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa2 & Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhidu'Llah]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/30/logika-tawassul/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Di antara logika yang sering dikemukakan oleh orang-orang yang menganjurkan tawassul dengan orang-orang yang sudah wafat—yang zahirnya adalah orang shalih—di makam mereka adalah sebagai berikut: Seseorang yang hendak menemui dan meminta kepada raja maka ia harus melalui perantaraan sekretarisnya, bawahannya, atau orang yang dekat dengan raja terlebih dahulu, maka begitu pula orang yang hendak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=19&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:-36pt;line-height:150%;margin:6pt 0 0.0001pt 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanya: </span></strong></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Di antara logika yang sering dikemukakan oleh orang-orang yang menganjurkan <em>tawassul</em> dengan orang-orang yang sudah wafat—yang zahirnya adalah orang shalih—di makam mereka adalah sebagai berikut: Seseorang yang hendak menemui dan meminta kepada raja maka ia harus melalui perantaraan sekretarisnya, bawahannya, atau orang yang dekat dengan raja terlebih dahulu, maka begitu pula orang yang hendak menghadap dan meminta kepada Allah, Sang Maha Raja, maka ia menggunakan perantaraan (ber-<em>tawassul</em>) dengan orang-orang yang dekat dengan Allah, yaitu orang-orang shalih atau para wali, di makam mereka. Benarkah logika dan cara pandang yang demikian?</span></strong></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ini adalah logika, silogisme dan analogi yang sangat fatal kekeliruannya </span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">(<em>qiyās fāsidu&#8217;l i`tibār wa ma`a&#8217;l fāriq</em>). Sebab, tentu <strong>tidak sama antara raja dunia dengan Allah, Sang Maha Raja</strong>. Raja dunia banyak memiliki kelemahan. Ia dapat dimudharatkan oleh orang lain yang tidak dikenalnya, yaitu dibunuh atau dilukai. Di samping bahwa kekayaan raja dunia yang sangat terbatas sehingga ia tidak mampu mengabulkan permintaan dari seluruh rakyatnya. Karena itulah maka ia membutuhkan perantara, yaitu untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan untuk menyeleksi permintaan yang masuk kepadanya. Adapun Allah, maka siapakah yang mampu memudharatkan Allah? Bukankah Allah itu maha kaya dan dengan mudah mampu memenuhi permintaan setiap hamba-Nya?</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Disebutkan dalam hadits <em>quds<u>i</u></em>, bahwa Allah berkata,</span></p>
<p><span id="more-19"></span></p>
<p dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ، وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ. كَانُوا عَلَى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> أَتْقَى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ. كَانُوا عَلَى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu memudharatkan-Ku dan juga tidak akan mampu memberi manfaat kepada-Ku. Hai para hamba-Ku, sekiranya yang awal dan yang akhir dari kalian, begitu pula jin dan manusia seluruhnya berada pada kondisi satu hati yang paling bertaqwa dari kalian niscaya hal itu tidak menambah apapun pada kerajaan-Ku. Hai para hamba-Ku, sekiranya sekiranya yang awal dan yang akhir dari kalian, begitu pula jin dan manusia seluruhnya berada pada kondisi satu hati yang paling durhaka dari kalian niscaya hal itu tidak mengurangi sedikit pun dari kerajaan-Ku. Hai para hamba-Ku, sekiranya sekiranya yang awal dan yang akhir dari kalian, begitu pula jin dan manusia seluruhnya berdiri pada suatu tempat, lalu semuanya meminta kepada-Ku dan kemudian Aku penuhi permintaan dari masing-masing kalian, maka tidaklah hal itu mengurangi apa yang di sisi-Ku melainkan seperti berkurangnya (air laut yang menempel pada) jarum apabila dicelupkan kepadanya.&#8221; [Riwayat Muslim dan lain-lain.]</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Di samping itu, dengan menggunakan logika yang sama dapat kita katakan: <strong>Manakah yang lebih baik</strong>; <strong>raja yang jauh dari rakyatnya sehingga rakyatnya harus memakai perantara untuk menemuinya, ataukah raja yang sangat dekat dan egaliter sehingga rakyatnya dapat bertemu langsung dengannya tanpa perantara?</strong> Tentu jawabnya adalah raja tipe kedua. Jika demikian, maka mengapa mereka justru menganalogikan Allah <em>`Azza wa Jalla</em> dengan raja tipe pertama?! <em>Sub<u>h</u>āna&#8217;Llāh &#8216;an mā yashifun</em>.</span></p>
<p dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">تِلْكَ إِذاً قِسْمَةٌ ضِيزَى {22} إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاء سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ وَلَقَدْ جَاءهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَى {23}</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;<em>Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentangnya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka</em>.&#8221; (QS. An-Najm: 22-23)</span></p>
<p dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;<em>Dan apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran</em>.&#8221; (QS. Al-Baqarah [2]: 186)</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Selanjutnya, <strong>dari mana akan diketahui bahwa orang yang telah wafat yang dijadikan sebagai perantara itu adalah sebenar-benar wali Allah atau orang shalih dalam pandangan Allah?</strong> Meskipun secara zahir yang bersangkutan adalah orang shalih, tapi bukankah kita tidak mengetahui batin dan kadar keikhlasannya? Keikhlasan dan batin seseorang hanya diketahui oleh Allah. Padahal, keikhlasan adalah faktor utama yang menentukan penerimaan seseorang di sisi Allah. <strong>Bukankah yang masuk neraka pertama kali adalah orang alim atau <em>qāri&#8217;</em>, <em>mujāhid</em> dan penderma yang tidak ikhlas, padahal secara zahir mereka tampak sebagai orang shalih?</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Abū Hurairah, Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> bersabda,</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ. فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ. وَلكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> وَجْهِهِ حَتَّى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ. فَأُتِيَ بِهِ. فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَـ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">كِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> وَجْهِهِ حَتَّى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ. فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ. وَلَـ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">كِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Tahoma;">ٰ</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> وَجْهِهِ. ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili pada hari Kiamat (ada tiga); <strong>(1) Orang yang mati syahid</strong>. Ia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengenalnya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tadi?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga terbunuh.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya disebut pemberani, dan itu sudah terealisir. Lalu diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, hingga dilemparkan ke neraka. <strong>(2) Orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’ān</strong>. Ia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengenalnya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tadi?’ Ia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu di jalan-Mu dan akupun mengajarkannya, serta aku membaca al-Qur’ān di jalan-Mu.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau belajar supaya disebut `alim, dan itu sudah terealisir. Engkau juga membaca al-Qur’ān supaya disebut dia qāri’ dan hal itu sudah terealisir.&#8217; Lalu diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, hingga dilemparkan ke neraka. <strong>(3) Orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberikan segala jenis harta</strong>. Ia didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengenalnya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tadi?’ Ia menjawab, ‘Tidaklah ada suatu sarana yang Engkau suka agar diinfakkan di dalamnya melainkan aku berinfak di dalamnya untuk-Mu.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau melakukannya supaya disebut dermawan, dan hal itu sudah terealisir.&#8217; Lalu diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, hingga dilemparkan ke neraka.” [Riwayat Muslim III/1304/1678.]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dalam lafazh lain disebutkan bahwa Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> kemudian berkata kepada Abū Hurairah,</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أُولِئَكَ الثَّلاَثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ الله تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ القِيَامَةِ</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Ya Abū Hurairah, tiga orang itulah adalah makhluk Allah yang pertama kali dinyalakan neraka dengan mereka.&#8221; [Riwayat at-Tirmidzi dan lain-lain, serta dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albān<u>i</u>]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam Ibnu&#8217;l Qayyim berkata, &#8220;Saya mendengar Syaikhu&#8217;l Islām Ibn Taimiyyah mengatakan, apabila sebaik-baik manusia adalah para Nabi, maka sejelek-jelek manusia adalah orang yang berusaha menyerupai mereka dari kalangan pendusta. Ia mengaku termasuk kalangan mereka, padahal ia bukan dari kalangan mereka. Sebaik-baik manusia setelah para Nabi adalah para ulama, syuhadā&#8217;, dan para penderma yang ikhlas, dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang berusaha menyerupai mereka dengan menimbulkan persepsi yang salah bahwa ia termasuk kalangan mereka, padahal sebenarnya bukan dari kalangan mereka.” [Lihat <em>ad-Dā' wa'd Dawā'</em> hal. 20.]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kemudian, <strong>jika Anda berdoa langsung kepada Allah tanpa ber-<em>tawassul</em> kepada orang yang telah meninggal, maka seluruh ulama sepakat menilai bahwa hal tersebut sah dan tidak ada yang melarang hal itu. Sedangkan jika Anda berdoa dengan ber-<em>tawassul</em> kepada orang yang telah meninggal, maka sebagian ulama menyatakan bahwa hal itu sebagai bid`ah dan sebagian lain menyatakan sebagai bentuk kesyirikan. Sebagai orang yang berakal, manakah yang Anda pilih? Bukankah selayaknya Anda memilih yang lebih selamat dan yang disepakati kebolehannya oleh seluruh ulama, apalagi jika hal tersebut justru lebih memudahkan?</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ</span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">&#8220;<em>Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya</em>.&#8221; (QS. Qāf: 37)</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Semoga ada manfaatnya….</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Salam,</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Abū Fāris An-Nūr<u>i</u></span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">NB:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pembahasan kali ini hanyalah terkait dengan sanggahan dan kritik ilmiah atas logika mereka yang menganjurkan <em>tawassul</em>, dan bukan pembahasan terperinci mengenai <em>tawassul</em>. Adapun pembahasan terperinci tersebut maka <em>in syā&#8217;a'Llāh</em> akan saya turunkan di lain kesempatan, jika memungkinkan.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=19&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/30/logika-tawassul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaya Syukur Vs Miskin Sabar</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/kaya-syukur-vs-miskin-sabar/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/kaya-syukur-vs-miskin-sabar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 08:09:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/kaya-syukur-vs-miskin-sabar/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Manakah yang lebih afdhal dan utama, orang kaya yang bersyukur atas kekayaannya dan memanfaatkannya untuk kebaikan, ataukah orang miskin yang bersabar atas kemiskinannya? Jawab: Syaikhu&#8217;l Islām Ibn Taimiyyah berkata, &#8220;Banyak dari kalangan kaum muslimin belakangan (muta&#8217;akhkhirūn) berbeda pendapat mengenai orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar, manakah yang lebih utama dari keduanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=18&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanya:</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Manakah yang lebih afdhal dan utama, orang kaya yang bersyukur atas kekayaannya dan memanfaatkannya untuk kebaikan, ataukah orang miskin yang bersabar atas kemiskinannya?</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Syaikhu&#8217;l Islām Ibn Taimiyyah berkata, &#8220;Banyak dari kalangan kaum muslimin belakangan (<em>muta&#8217;akhkhirūn</em>) berbeda pendapat mengenai orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar, manakah yang lebih utama dari keduanya. Sebagian ulama dan ahli ibadah memilih kelompok pertama dan sebagian lain memilih kelompok kedua. Dan dihikayatkan pula adanya dua riwayat (yang bertolak belakang) dari Imam A<u>h</u>mad dalam hal ini. Adapun para Sahabat dan Tabi`īn, maka tidak terdapat nukilan dari mereka mengenai pengutamaan salah satu dari dua kelompok tersebut atas kelompok lainnya.&#8221; (<em>Majmū` al-Fatāwā</em>, vol. XI, hal. 119.)</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah berkata, &#8220;Banyak orang yang apabila berbicara tentang pengutamaan (sesuatu atas yang lain) maka ia tidak memperinci (<em>tafshīl</em>) sisi-sisi pengutamaan (dari objek-objek yang tengah dibicarakan) dan tidak mempertimbangkan antara sisi-sisi tersebut, sehingga hasilnya kurang tepat. Jika hal ini ditambah dengan sejenis fanatisme dan hawa nafsu terhadap individu yang diutamakan, maka yang bersangkutan berbicara dengan kebodohan dan kezhaliman dalam banyak masalah terkait pengutamaan. Syaikhu&#8217;l Islam Ibn Taimiyyah pernah ditanya tentang berbagai masalah terkait pengutamaan (sesuatu atas yang lain) maka beliau menjawab dengan perincian yang memuaskan.&#8221; (<em>Badā&#8217;i` al-Fawā&#8217;id</em>, vol. III, hal. 683.)</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dua riwayat dari Imam A<u>h</u>mad yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut:</span></p>
<p><span id="more-18"></span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pertama: Orang miskin yang bersabar lebih utama.</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Riwayat ini dipilih oleh Abū Is<u>h</u>āq Ibn Syāqilā dan al-Qādhī Abū Ya`lā. Pendapat ini juga dipilih oleh mayoritas Shūfiyyah dan banyak ahli fiqh. Termasuk dalam kelompok ini adalah al-Junaid. Di antara alasan yang digunakan adalah, bahwa cobaan kemiskinan lebih berat untuk dirasakan dibandingkan cobaan kekayaan. Imam al-Ghazāl<u>i</u> berpendapat bahwa secara umum kefakiran lebih afdhal dibandingkan kekayaan [<em>al-I<u>h</u>yā'</em>, vol. III, hal. 264]. Meski beliau berkata di tempat lain, &#8220;Berapa banyak orang faqir yang bersabar lebih afdhal dibandingkan orang kaya yang bersyukur. Dan (begitu pula sebaliknya), berapa banyak orang kaya yang bersyukur lebih afdhal dibandingkan orang faqir yang sabar. Itulah orang kaya yang memberlakukan dirinya seperti orang faqir. Ia tidak memegang harta untuk dirinya kecuali sebatas kebutuhan darurat, dan selebihnya ia berikan untuk hal-hal kebaikan.&#8221; [Lihat <em>al-I<u>h</u>yā'</em>, vol. IV, hal. 140.]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Abū Hurairah, Nabi bersabda:</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَدْخُل فُقَرَاءُ الْمسْلمِينَ الْجنّةَ قَبْلَ أغْنِيَائِهِم بِنِصْفِ يَوْمٍ، وَهُوَ خَمْسُمِائَة عَامٍ</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Orang-orang faqir kaum muslimin mendahului orang-orang kaya mereka dalam hal masuk surga selama setengah hari (di akhirat), yaitu lima ratus tahun.&#8221; [Lihat <em>Sha<u>h</u>ī<u>h</u> al-Jāmi`</em> no. 8076.]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Hadits di atas termasuk dalil yang digunakan oleh mereka yang mengatakan bahwa orang faqir yang sabar lebih utama dibandingkan orang kaya yang bersyukur. Namun, Imam Ibnu&#8217;l Qayyim berkata, &#8220;Di sini ada perkara yang harus diperhatikan, bahwa mendahului masuk surga tidak melazimkan orang miskin lebih tinggi posisinya dibandingkan orang kaya yang belakangan masuk surga. Bahkan, bisa jadi orang yang belakangan masuk surga lebih tinggi posisinya dibandingkan yang mendahului. Dalilnya, ada dari umat ini sekelompok orang yang masuk surga tanpa hisab, yaitu sejumlah 70 ribu orang, sedangkan bisa jadi sebagian orang yang dihisab lebih afdhal dari kebanyakan mereka. Jika orang kaya dihisab, lalu didapati bahwa ia adalah orang yang bersyukur kepada Allah atas kekayaannya dan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam kebajikan, kebaikan, sedekah dan hal-hal yang positif, maka ia lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang faqir yang mendahului masuk surga namun tidak memiliki amalan-amalan tersebut.&#8221; [<em><u>H</u>ādī'l Arwā<u>h</u></em>, hal. 80]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kedua: Orang kaya yang bersyukur lebih utama.</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Pendapat ini dipilih oleh sejumlah ulama. Di antara tokoh yang memilih pendapat ini adalah Ibn Qutaibah, Abū&#8217;l `Abbās Ibn `Athā&#8217;, Abū &#8216;Al<u>i</u> ad-Daqqāq (guru Abū&#8217;l Qāsim al-Qusyair<u>i</u>) dan banyak ulama madzhab Syāfi&#8217;<u>i</u>. Mungkin ada sebagian orang yang mengklaim bahwa ini adalah <em>ijmā`</em> dan itu merupakan kesalahan fatal. Di antara alasan yang digunakan kelompok ini adalah, bahwa kekayaan merupakan sifat Allah sedangkan kefakiran merupakan sifat makhluk, sementara sifat Allah tentu lebih baik dibandingkan sifat makhluk. Mutharrif Ibn &#8216;Abdi&#8217;Llāh berkata, &#8220;Sungguh, aku diberi afiat sehingga aku bersyukur lebih aku sukai dibandingkan aku diberi ujian sehingga aku bersabar.&#8221;</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Abū Dzarr, beliau menyebutkan bahwa sebagian Sahabat mengadu kepada Nabi, </span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَا رَسُولَ اللّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ. يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي. وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ. وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ &#8230;</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Ya Rasulullah, orang-orang kaya pergi membawa pahala-pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami puasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta yang mereka bersedekah dengannya, sementara kami tidak memiliki harta untuk disedekahkan….&#8221; [Riwayat Muslim dan lain-lain]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam an-Nawaw<u>i</u> berkata, &#8220;Dalam hadits ini terdapat dalil bagi mereka yang mengutamakan orang kaya yang bersyukur atas orang miskin yang sabar. Dan dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat yang masyhur di kalangan Salaf dan Khalaf dari berbagai kelompok.&#8221; [Lihat <em>'Aunu'l Ma'būd</em>, vol. IV, hal. 260]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dalam masalah ini ada pendapat ketiga, dan inilah pendapat yang benar <em>in syā-a&#8217;Llāh</em>, yaitu: tidak dimutlakkan mana yang lebih utama dari kedua kelompok tersebut, dan yang lebih utama adalah yang paling bertaqwa dari keduanya. Jika dalam hal ketaqwaan sama maka derajat dan keutamaan keduanya adalah sama.</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Pendapat ini dipilih oleh Ibn Taimiyyah, Ibnu&#8217;l Qayyim, al-Munāwi, Abū Hafsh as-Suhraward<u>i</u> dan lain-lain. </span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">[Lihat: <em>Majmū` al-Fatāwā</em>, vol. XI, hal. 119-123, <em>Fat<u>h</u>u'l Bārī</em>, vol. XI, hal. 275-276, <em>Badā'i` al-Fawā'id</em>, vol. III, hal. 683, dan <em>Faidhu'l Qadīr</em>, vol. II, hal. 288.]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ibnu&#8217;l Qayyim berkata, &#8220;Menurut ahli <em>ta<u>h</u>qīq</em> dan <em>ma`rifah</em>, masalah pengutamaan tidaklah terkait dengan hal kefakiran (kemiskinan) dan kekayaan (itu sendiri). Namun terkait dengan amal, kondisi dan realitas. Yang dipermasalahkan pun pada dasarnya tidak tepat. Sebab pengutamaan di sisi Allah terkait dengan taqwa dan hakikat iman, bukan dengan kefakiran atau kekayaan.&#8221; [<em>Madāriju's-Sālikīn</em>, vol. II, hal. 442]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Allah berfirman:</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.&#8221; (QS. Al-<u>H</u>ujurāt [49]: 13)</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إِن يَكُنْ غَنِيّاً أَوْ فَقَيراً فَاللّهُ أَوْلَى بِهِمَا</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.&#8221; (QS. An-Nisā&#8217; [4]: 135)</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">`Umar Ibn al-Khaththāb berkata, </span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">الْغِنَى وَالْفَقْرُ مَطِيَّتَانِ لاَ أُبَالِي أَيَّتهُمَا رَكِبْتُ</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Kekayaan dan kefaqiran adalah dua tunggangan, aku tidak peduli yang mana dari keduanya yang aku tunggangi.&#8221; [<em>Majmū` al-Fatāwā</em>, vol. XI, hal. 123.]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Diriwayatkan dalam hadits <em>quds<u>i</u></em>:</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لاَ يَصْلُحُ إِيْمَانُهُ إِلاَّ بِالْغِنَى وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَكَفَرَ وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لاَ يَصْلُحُ إِيْمَانُهُ إِلاَّ بِالْفَقْرِ وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَكَفَرَ وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لاَ يَصْلُح إِيْمَانُه إِلاّ بِالسَّقمِ وَلوْ أَصْحَحْته لَكَفَر وَإِنّ مِنْ عِبَاديْ مَنْ لا يصْلحُ إيمَانُه إِلاَّ بِالصِّحَّة وَلَوْ أَسْقَمْتُه لَكَفَرَ</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Sesungguhnya ada dari para hamba-Ku yang tidak memperbaiki imannya kecuali kekayaan. Sekiranya aku menjadikannya faqir niscaya ia kafir. Ada dari para hamba-Ku yang tidak memperbaiki imannya kecuali kefakiran. Sekiranya aku menjadikannya kaya niscaya ia kafir. Ada dari para hamba-Ku yang tidak memperbaiki imannya kecuali sakit. Sekiranya aku menjadikannya sehat niscaya ia kafir. Ada dari para hamba-Ku yang tidak memperbaiki imannya kecuali sehat. Sekiranya aku menjadikannya sakit niscaya ia kafir. [Hadits ini dinyatakan tidak valid oleh Syaikh al-Albān<u>i</u> dalam <em>adh-Dha`</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">ī</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">fah</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> no. 1774, akan tetapi <em>in syā-a'Llāh</em> maknanya dapat dibenarkan.]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ibn Taimiyyah berkata, &#8220;Terdapat orang-orang kaya di kalangan para Nabi dan orang-orang terdahulu yang (jelas) lebih afdhal dibandingkan mayoritas orang miskin. (Begitu juga sebaliknya,) di kalangan mereka terdapat orang-orang miskin yang (jelas) lebih afdhal dibandingkan mayoritas orang kaya. Dan orang-orang yang sempurna menunaikan dua posisi, (yakni) mereka melaksanakan syukur dan sabar secara sempurna, seperti halnya kondisi Nabi beserta Abū Bakr dan `Umar.&#8221; [<em>Majmū` al-Fatāwā</em>, vol. XI, hal. 120.]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam Ibnu&#8217;l Qayyim berkata, &#8220;Masing-masing dari orang faqir dan kaya harus menunaikan sabar dan syukur. Sebab, iman itu terbagi dua, separuh dalam sabar dan separuh lagi dalam syukur. Bisa jadi bagian kesabaran orang kaya itu lebih banyak, karena ia bersabar padahal ia mampu (untuk melakukan hal yang terlarang), sehingga kesabarannya lebih sempurna dibandingkan orang yang kesabarannya karena ketidakmampuan (yakni orang faqir). Dan (demikian pula sebaliknya), bisa jadi kesyukuran orang faqir itu lebih sempurna.&#8221; [<em>Madāriju's Sālikīn</em>, vol. II, 442-443.]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam al-Munāw<u>i</u> berkata, &#8220;Berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tersebut tidak menyibukkan dan melalaikannya dari Allah, sementara berapa banyak orang faqir yang kefakirannya menyibukkan dan melalaikannya dari Allah.&#8221; [<em>Faidhu'l Qadīr</em>, vol. II, hal. 288]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Di samping parameter ketaqwaan yang bersifat individual, penting juga diingat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Jābir, Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> bersabda,</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">خَيْرُ النّاسِ أَنْفَعُهمْ للنَّاسِ</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.&#8221; [Lihat <em>ash-Sha<u>h</u>ī<u>h</u>ah</em> no. 426.]</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pada saat sekarang ini, di mana kemiskinan tengah melanda banyak kaum muslimin di samping invansi musuh dalam berbagai aspek kehidupan. Ada di antara kaum muslimin yang sampai melakukan kejahatan, bahkan tidak segan menggadaikan iman disebabkan kemiskinan. Karena itu, kemunculan konglomerat-konglomerat muslim yang memberikan hartanya untuk membela dan menegakkan Islam serta membantu sesama muslim menjadi hal yang sangat urgen.</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Demikian, semoga ada manfaatnya. <em>Wa&#8217;Llāhu a&#8217;lam bish shawāb</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Salam,</span></p>
<p class="MsoBodyText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Adni Abū Fāris an-Nūr<u>i</u></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=18&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/kaya-syukur-vs-miskin-sabar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zakat Fithri</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/zakat-fithri/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/zakat-fithri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 07:45:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/zakat-fithri/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Benarkah penggunaan istilah zakat fithrah? Bagaimanakah pengertian dan hukumnya? Apa hikmahnya? Berapa besarnya? Bolehkah menunaikannya dalam bentuk uang? Siapakah yang terkena kewajiban tersebut? Kapan waktu menunaikannya? Siapakah yang berhak menerimanya? Jawab: Di Indonesia, Zakātul Fithr diterjemahkan dengan &#8220;Zakat Fithrah&#8221;. Hal ini sebenarnya kurang tepat, namun inilah yang terlanjur tersebar di Indonesia. Mungkin hal tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=17&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanya:</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Benarkah penggunaan istilah zakat fithrah? Bagaimanakah pengertian dan hukumnya? Apa hikmahnya? Berapa besarnya? Bolehkah menunaikannya dalam bentuk uang? Siapakah yang terkena kewajiban tersebut? Kapan waktu menunaikannya? Siapakah yang berhak menerimanya?</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Di Indonesia, <em>Zakātul Fithr</em> diterjemahkan dengan &#8220;Zakat Fithrah&#8221;. Hal ini sebenarnya kurang tepat, namun inilah yang terlanjur tersebar di Indonesia. Mungkin hal tersebut dibangun atas anggapan masyarakat bahwa makna `Īdul Fithri adalah kembali kepada kesucian (fithrah). Padahal, anggapan ini kurang tepat. Makna `Īdul Fithri yang lebih tepat adalah kembali berbuka, setelah sebulan lamanya diwajibkan berpuasa. Sehingga terjemahan yang lebih tepat untuk <em>Zakātul Fithr</em> adalah Zakat Fithri, seperti halnya `Īdul Fithri, mengikuti bahasa aslinya. <em>WaLlāhu a&#8217;lam</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pengertian dan Kewajiban Zakat Fithri</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Zakātul fithr</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> adalah zakat yang diwajibkan karena berbuka dari bulan Ramadhān. Zakat ini wajib atas tiap-tiap individu muslim: kecil, besar, laki-laki, wanita, merdeka, maupun budak.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Ibn `Umar, beliau berkata: </span></p>
<p><span id="more-17"></span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Rasulullah ` mewajibkan zakat fithri dengan satu shā&#8217; kurma atau satu shā&#8217; gandum, baik atas budak, merdeka, laki laki, perempuan, anak kecil, maupun dewasa, dari kalangan kaum Muslimin.&#8221; </span></em></p>
<p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">[Riwayat al-Bukhār<u>i</u>: II/161; Muslim: II/677- 678; dan lain-lain]</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Hikmah Zakat Fithri</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Zakat Fithri diwajibkan pada Sya’ban 2 H. Tujuannya untuk menyucikan orang yang berpuasa dari segala pelanggaran yang mungkin terjadi saat puasa, baik berupa melakukan perbuatan yang sia-sia, atau perkataan yang keji; sekaligus untuk membantu orang-orang yang fakir.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Ibn ‘Abbās, beliau berkata: </span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Rasulullah ` mewajibkan Zakat Fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan yang keji; sekaligus sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat `Īd, maka ia merupakan zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat `Īd, maka ia termasuk salah satu shadaqah (yang sunnah).” </span></em></p>
<p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">[Riwayat Abū Dāwūd: II/262; Ibn Mājah I/585; ad-Dāruquthn<u>i</u> II/138. Dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albān<u>i</u>]</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Besar dan Bentuk Zakat Fithri:</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Zakat Fithri adalah satu <em>shā`</em> gandum, kurma, anggur, keju, beras, jagung, atau makanan pokok lainnya.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">Satu <em>shā`</em> setara dengan empat <em>mudd</em>. Satu <em>mudd</em> adalah setangkup dua telapak tangan orang yang berukuran sedang. Satu <em>mudd</em> <em>nabaw<u>i</u> </em>diperkirakan setara dengan 0,688 liter.<span>  </span>Sehingga satu <em>shā`</em> diperkirakan setara dengan 2,752 liter. Menurut Syaikh Ibn &#8216;Utsaim<u>i</u>n, satu <em>sha&#8217;</em> diperkirakan setara dengan 2,04 kg jika dengan gandum berkualitas baik. Untuk beras, maka dikonversi terlebih dahulu sesuai massa jenisnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">[Lihat: <em>al-Fiqhu'l Islām<u>i</u> wa Adillatuh</em>, vol. I, hal. 142-143, dan <em>Majālis Syahr Ramadhān</em>, hal. 143]</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Abū <u>H</u>anīfah membolehkan mengeluarkan Zakat Fithri dengan harga (uang). Beliau juga berkata: “Jika seorang <em>muzakki</em> mengeluarkan zakat dengan gandum, maka mengeluarkan setengah <em>shā`</em> itu sudah mencukupi.”</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Namun, ini adalah pendapat yang kurang kuat, dan membayar Zakat Fithri dengan bahan makanan pokok adalah lebih tepat dan lebih utama. Sebab, pada zaman Nabi ` pun uang telah dikenal. Namun <em>common practice</em> pembayaran Zakat Fithri pada zaman Nabi pun dengan bahan makanan pokok. <em>WaLlāhu a&#8217;lam</em>. Namun, tentu saja seseorang dapat memberikan sedekah tambahan berupa uang atas Zakat Fithr yang dikeluarkannya, bahkan jelas ini merupakan kebaikan di atas kebaikan.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Abū Sa’īd al-Khudr<u>i</u> berkata:</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">كُنَّا نُخْرِجُ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنْ كُلِّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ حُرٍّ أَوْ مَمْلُوكٍ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ فَلَمْ نَزَلْ نُخْرِجُهُ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْنَا مُعَاوِيَةُ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا فَكَلَّمَ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَكَانَ فِيمَا كَلَّمَ بِهِ النَّاسَ أَنْ قَالَ إِنِّي أَرَى أَنَّ مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَمَّا أَنَا فَلاَ أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ أَبَدًا مَا عِشْتُ</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Ketika Rasulullah ` masih bersama kami, kami mengeluarkan Zakat Fithri atas setiap anak kecil, dewasa, orang merdeka, dan hamba sahaya, sebanyak satu shā` makanan, satu shā` keju, satu shā` gandum,<span>  </span>satu shā` kurma, satu shā` kismis. Kami tetap melakukan hal itu sampai datanglah Mu&#8217;āwiyah untuk melakukan haji atau &#8216;umrah. Lalu ia<span>  </span>berkata di atas mimbar. Diantara yang ia ucapkan di hadapan orang-orang adalah: “Aku memandang bahwa dua mudd (setengah shā`) dari samrā&#8217; (gandum) Syam setara dengan satu shā&#8217; kurma.&#8217; Maka orang-orang pun mengambil perkataannya tersebut.&#8221; Abu Sa’īd melanjutkan: “Tetapi aku tetap mengeluarkan zakat seperti yang kulakukan sebelumnya selama aku hidup.” </span></em></p>
<p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">[Riwayat al-Bukhār<u>i</u>: II/161-162; Muslim: II/ 678-679; Abū Dāwūd: II/ 267; dan lain-lain]</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam at-Tirmidz<u>i</u> berkata, &#8220;Sebagian ahli ilmu mengamalkan hadits di atas. Mereka berpendapat bahwa ukuran Zakat Fithri untuk segala sesuatu adalah satu <em>shā</em>`.&#8221; </span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sebagian ulama berpendapat, untuk segala sesuatu wajib dikeluarkan satu <em>shā`</em>, kecuali <em>burr</em> (gandum), cukup hanya dengan setengah <em>shā`</em>. Ini adalah pendapat Sufyān, Ibnu&#8217;l Mubārak, dan penduduk Kufah.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kepada siapakah Zakat Fithri Diwajibkan?</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Zakat Fithri diwajibkan atas seorang muslim yang merdeka, serta memiliki satu <em>shā&#8217;</em><span>  </span>bahan makanan pokok yang lebih dari kebutuhan diri dan tanggungannya untuk sehari semalam. Ini adalah madzhab Mālik, asy-Syāfi’<u>i</u>, dan A<u>h</u>mad. Imam as-Syaukān<u>i</u> berkata, “Inilah pendapat yang benar. Sedangkan menurut madzhab <u>H</u>anaf<u>i</u> disyaratkan bahwa yang bersangkutan harus telah mencapai nishab.&#8221; </span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Zakat Fithri wajib dikeluarkan atas dirinya dan atas orang-orang yang wajib dinafkahi olehnya, seperti istri, anak dan pembantu.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kapan Zakat Fithri Wajib Ditunaikan?</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Para</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> ulama fiqh sepakat bahwa Zakat Fithri diwajibkan pada akhir bulan Ramadhan, tetapi mereka berbeda pendapat tentang batasan waktunya. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sufyān ats-Tsaur<u>i</u>, A<u>h</u>mad, asy-Syāfi’<u>i</u> dalam pendapatnya yang lama, dan salah satu riwayat Mālik menyatakan bahwa waktu wajibnya adalah ketika terbenamnya matahari di malam hari raya. Alasannya, itulah waktu berbuka dari bulan Ramadhan.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Abū <u>H</u>anīfah, al-Laits, asy-Syāfi’<u>i</u> dalam pendapatnya yang lama, dan riwayat kedua dari Mālik menyatakan bahwa waktu wajibnya adalah ketika terbitnya fajar di hari raya.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Faidah dari perbedaan pendapat dalam masalah ini, jika seorang bayi dilahirkan sebelum fajar hari raya dan setelah matahari terbenam, apakah ia terkena Zakat Fithri atau tidak? </span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menurut pendapat pertama, ia tidak terkena Zakat Fithri, karena dia lahir setelah lewatnya waktu wajib Zakat Fithri, berdasarkan pendapat mereka. Sedangkan menurut pendapat kedua, ia terkena Zakat Fithri, karena ia dilahirkan sebelum waktu wajib Zakat Fithri, menurut mereka.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Mendahulukan Pembayaran Zakat Fithri Sebelum Tiba</span></strong><span dir="rtl"></span><strong><span dir="rtl" style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="rtl"></span> </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Waktu Kewajibannya</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Mayoritas ulama fiqh berpendapat bahwa boleh hukumnya menyegerakan pembayaran Zakat Fithri ketika satu atau dua hari sebelum hari raya.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ibnu &#8216;Umar berkata: </span></p>
<p class="MsoBodyText3" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Rasulullah ` memerintahkan kami agar Zakat Fithri itu dibayarkan sebelum orang-orang keluar menuju shalat.”</span></em></p>
<p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;">[Riwayat al-Bukhār<u>i</u>: II/161; Muslim: II/ 679; dan lain-lain]</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Para</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> ulama berbeda pendapat jika Zakat Fithri dibayarkan sebelum tersebut. Menurut Abū <u>H</u>anīfah, boleh membayar Zakat Fithri sebelum bulan Ramadhān. Imam asy-Syāfi’<u>i</u> berkata: “Boleh membayarnya di awal bulan Ramadhān.” </span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Malik berpendapat—sekaligus merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam—bahwa membayarnya satu atau dua hari sebelum hari raya.”</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pendapat yang terakhir disebutkan adalah pendapat yang benar <em>in sya-aLlāh</em>. Zakat Fithri boleh dibayarkan pada satu atau dua hari sebelum hari raya. Dalilnya adalah riwayat Ibn &#8216;Umar yang baru saja disebutkan. Alasan selanjutnya, tujuan dari Zakat Fithri adalah memberi kecukupan kepada orang fakir di hari raya, sehingga mereka bisa turut bergembira dan tidak perlu minta-minta. Inilah yang ditunjukkan oleh hadits-hadits seputar masalah ini. Jika Zakat Fithri dibayarkan di awal bulan Ramadhān, dikhawatirkan tujuan ini tidak tercapai. Karena bisa jadi Zakat Fithri yang mereka dapatkan sudah habis di pertengahan bulan. Ini jika Zakat Fithri tersebut dibagikan secara individu. Jika Zakat Fithri tersebut diberikan kepada panitia zakat yang terpercaya jauh sebelum dua hari dari hari raya, dimana panitia tersebut membagi-bagikan Zakat Fithri tadi kepada orang-orang yang fakir ketika satu atau dua hari menjelang hari raya, maka hal ini juga tidak mengapa—<em>in sya-aLlāh</em>. Sebab, yang menjadi tolak ukur (<em>`ibrah</em>) adalah sampainya Zakat Fithri di tangan orang-orang fakir menjelang hari raya. <em>WaLlāhu a&#8217;lam</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Para</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> ulama sepakat bahwa kewajiban Zakat Fithri tidak gugur meskipun sudah lewat dari waktunya. Ia tetap merupakan hutang yang menjadi tanggungan orang yang bersangkutan sehingga dia membayarnya, meskipun di akhir umurnya.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Mereka juga sepakat bahwa tidak boleh mengakhirkan Zakat Fithri melebihi hari raya. Kecuali apa yang dinukil dari Ibn Sīrīn dan an-Nakha&#8217;<u>i</u>. Keduanya berkata, “Boleh mengakhirkannya setelah hari raya.” Imam A<u>h</u>mad juga berkata, “Saya harap hal itu tidak mengapa.”</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ibn Ruslān menyanggah hal tersebut. Beliau berkata, “Perkara tersebut haram menurut kesepakatan ulama. Karena ia adalah zakat. Maka mengakhirkannya merupakan perbuatan dosa, seperti halnya melakukan shalat di luar waktunya.”</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Telah disebutkan dalam hadits sebelumnya:</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Barangsiapa yang menunaikan Zakat Fithri sebelum shalat `Īd, maka ia merupakan zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat `Īd, maka ia termasuk salah satu shadaqah (yang sunnah).” </span></em></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">[Riwayat Abū Dāwūd: II/262; Ibn Mājah I/585; ad-Dāruquthn<u>i</u> II/138. Dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albān<u>i</u>]<em></em></span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Golongan yang Berhak Menerima Zakat Fithri</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Orang-orang yang berhak mendapatkan zakat fitrah adalah orang-orang yang berhak mendapatkan zakat secara umum. Maksudnya, Zakat Fithri dibagikan kepada delapan golongan yang disebutkan dalam firman Allah (yang artinya): <em>“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin</em>….” (QS. At-Taubah [9]: 60)</span></p>
<p class="MsoBodyText2" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Hanya saja orang-orang fakir adalah golongan yang paling berhak dan sangat lebih diutamakan untuk mendapatkan Zakat Fithri. Sebagaimana ditegaskan dalam hadits terdahulu:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Rasulullah ` mewajibkan Zakat Fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan yang keji; sekaligus sebagai makanan bagi orang-orang miskin.&#8221;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">WaLlāhu a&#8217;lam bish shawāb.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Referensi Utama: <em>Fiqhu&#8217;s Sunnah</em>, vol. I, hal. 517-521, dengan tambahan dari beberapa referensi lainnya.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=17&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/zakat-fithri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menerima Kebenaran dari Orang Kafir dan Ahli Bid`ah</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/menerima-kebenaran-dari-orang-kafir-dan-ahli-bidah/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/menerima-kebenaran-dari-orang-kafir-dan-ahli-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 07:13:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj & Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/menerima-kebenaran-dari-orang-kafir-dan-ahli-bidah/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Apakah pendapat orang kafir—juga ahli bid`ah—harus ditolak secara mutlak? Bolehkah mengambil kebenaran dari mereka? Jawab: Allah Ta’ālā berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=16&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanya:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Apakah pendapat orang kafir—juga ahli bid`ah—harus ditolak secara mutlak? Bolehkah mengambil kebenaran dari mereka?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Allah <em>Ta’ālā</em> berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> (QS. Al-Māidah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Termasuk keadilan yang sangat utama adalah mengatakan kebenaran sebagai kebenaran dan menerimanya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari musuh dan orang yang dibenci. Serta mengatakan kesalahan sebagai kesalahan dan menolaknya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari sahabat dan orang yang dicintai. Demikianlah <em>manhaj</em> dan sunnah Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> beserta para Sahabat. Inilah keadilan yang mungkin sangat sulit direalisasikan pada zaman ini, dimana semangat fanatisme kelompok (<em><u>h</u>izbiyyah</em>) tengah melanda banyak kaum muslimin.</span></p>
<p><span id="more-16"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Disebutkan bahwa Yahudi mendatangi Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> dan berkata, “Kalian melakukan kesyirikan dan menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah!” Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> bertanya, “Mengapa bisa demikian?” Yahudi menjawab, “Kalian berkata, ‘Demi Ka’bah!’ Dan kalian juga berkata, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan!’” Maka Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> memerintahkan kepada para Sahabat apabila bersumpah agar mengucapkan: ‘Demi Rabb Ka’bah!’ Serta agar mereka mengatakan: ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu.”” [Riwayat an-Nasā’<u>i</u> VII/6/3773 dan lain-lain. Dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albān<u>i</u>]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Disebutkan pula bahwa seorang rahib Yahudi pernah mendatangi Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> dan berkata, “Wahai Mu<u>h</u>ammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah menjadikan (dalam riwayat lain: menahan) seluruh langit atas satu jari, seluruh bumi atas satu jari, pepohonan atas satu jari, air dan tanah atas satu jari, dan seluruh makhluk atas satu jari, lalu Dia berkata, ‘Akulah Sang Raja!’” Maka tertawalah Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> sampai tampak geraham beliau karena membenarkan ucapan rahib tadi. Kemudian beliau membaca firman Allah:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Dia lagi maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> (QS.Az-Zumar: 67) [Riwayat al-Bukhār<u>i</u> IV/1812/4553, dari Ibn Mas’ūd]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Demikian pula terdapat kisah masyhur dari Abū Hurairah yang diajari oleh setan untuk membaca Ayat Kursi sebelum tidur agar mendapat penjagaan dari Allah sampai pagi hari. Ketika ia menyampaikan hal tersebut kepada Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">, beliau berkata, “Dia jujur mengabarkan kebenaran kepadamu, padahal ia (setan itu) adalah pendusta.” [Riwayat al-Bukhari secara <em>mu’allaq</em> II/812/2187, dan disambungkan oleh an-Nasā’<u>i</u>, al-Ismā’il<u>i</u> dan Abū Nu’aim, sebagaimana disebutkan oleh Ibn <u>H</u>ajar dalam <em>Fat<u>h</u>u’l Bārī</em>. Lihat: <em>Mafātī<u>h</u>u’l Fiqh fi’d Dīn</em> hal. 99]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Diriwayatkan dari &#8216;Al<u>i</u> Ibn Abī Thālib, bahwa beliau berkata,</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لاَ تَعْرِفِ الْحَقَّ بِالرِّجَالَ اعْرِف الْحَقّ تَعْرِفْ أَهْلَه</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Janganlah mengenal kebenaran itu berdasarkan individu-individu tertentu. Kenalilah kebenaran itu niscaya engkau akan mengenal pemiliknya.&#8221; [<em>I<u>h</u>yā' 'Ulūmi'd Dīn</em>, vol. I, hal. 53]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Ibn Mas’ūd, beliau berkata,</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مَنْ جَاءَكَ بِالْحَقِّ فَاقْبَلْ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا بَغِيْضًا وَمَنْ جَاءَكَ بِالْبَاطِلِ فَارْدُدْ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ حَبِيْبًا قَرِيْبًا</span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran maka terimalah kebenaran itu darinya, meskipun ia adalah orang yang jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebatilan maka tolaklah, meskipun ia adalah orang yang dicintai dan dekat.” [Lihat: <em>Shifah ash-Shafwah</em>, vol. I, hal. 419; dan <em>al-Fawā’id</em>, hal. 148]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Beliau juga berkata,</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">الْحَقّ ثَقِيْلٌ مَرِيْءٌ وَالْبَاطِلُ خَفِيْفٌ وَبِيْءٌ</span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Kebenaran itu berat namun berakibat baik, sedangkan kebatilan itu ringan namun berakibat buruk.” [<em>Shifah ash-Shafwah</em>, vol. I, hal. 419-420]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam asy-Syāfi`<u>i</u> berkata, “Tidaklah seseorang bersikeras menentangku dan menolak kebenaran melainkan ia jatuh dalam pandanganku, sedangkan tidaklah seseorang menerima kebenaran tersebut melainkan aku menghormatinya dan yakin untuk mencintainya.” [<em>Siyar A’lām an-Nubalā’</em>, vol. X, hal. 33]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Syaikh Ibn `Utsaimin berkata, “Apa yang dikatakan oleh Syaikhu’l Islām adalah benar, yakni bahwa kita (harus) menerima kebenaran dari kelompok manapun, baik dari Mutashawwifah (kaum Sufi), pelajar fiqh maupun ulama syariah. Adapun kita tidak menerima apapun dari mereka dan mengatakan bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan adalah kesalahan, maka hal ini tidak benar. Dahulu, Imam A<u>h</u>mad (terkadang) duduk kepada sebagian kaum Sufi untuk melembutkan hati beliau. Artinya, pada kaum Sufi terdapat hal-hal berupa pelembutan hati dan keberpalingan dari dunia yang tidak terdapat pada selain mereka…. Ambillah kebenaran dari insan manapun itu, baik dari kaum Sufi, pelajar fiqh atau selain mereka!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kemiripan sebagian umat ini terhadap Yahudi dan Nasrani adalah, bahwa ulama syariah memandang kaum Sufi tidak ada apa-apanya, sementara kaum Sufi juga memandang bahwa ulama syariah tidak ada apa-apanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Mengenai perkara belajar dan berguru (<em>ta`līm</em>) kepada kaum Sufi, maka bisa jadi hal itu membuat mereka (semakin) terperosok dan menjadikan mereka terus bertahan di atas hal-hal (kesalahan) yang mereka lakukan, dan sekaligus juga dapat membuat orang lain terperdaya dan berkata, “Fulan (saja) belajar dan mengambil ilmu dari Sufi….”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Adapun menerima kebenaran, maka terimalah kebenaran dari insan manapun, bahkan dari Yahudi, Nasrani, setan atau orang-orang musyrik sekalipun.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sekian kutipan dari Syaikh. [Lihat <em>Fat<u>h</u>u’l Mu`īn fi’t Ta`līq `alā Iqtidhā’ish Shirāthi’l Mustaqīm</em>, hal. 32.] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Menolak kebenaran termasuk kesombongan (<em>kibr</em>). Padahal, sekecil <em>dzarrah</em> dari kesombongan menyebabkan pelakunya tidak masuk surga. Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> bersabda, </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قالَ رَجلٌ: إنَّ الرّجلَ يُحبُّ أنْ يَكوْنَ ثوْبُه حسنًا ونَعْلَه حَسَنَةُ. قال: إنّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبّ الجَمالَ، الْكِبْر بَطَرُ الْحَقّ وَغَمْطُ النّاس</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya memiliki semisal <em>dzarrah</em> dari kesombongan.” Ada yang bertanya, “Sesungguhnya ada orang yang suka mengenakan baju dan pakaian yang bagus.” Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> menjawab, “Sesungguhnya Allah itu maha indah dan menyukai keindahan. (Yang dimaksud dengan) kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.” [Riwayat Muslim I/93/91, Abū Dāwūd II/457/4092, dan lain-lain]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kesombongan inilah yang menyebabkan Iblis dikeluarkan dari surga karena menolak perintah sujud kepada Adam. Iblis menolak kebenaran bahwa Adam diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan (QS. At-Tīn: 4) dan justru melecehkan Adam melalui ucapannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Aku lebih baik darinya; Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah!&#8221; (QS. Al-A’rāf: 12 dan Shād: 76)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pada umumnya, tidaklah seseorang itu menolak kebenaran melainkan karena ia melecehkan atau berburuk sangka. Ia menganggap bahwa dirinya lebih dari orang lain, baik dari sisi kecerdasan, kedudukan, harta dan sebagainya, atau ia merasa bahwa orang lain hanyalah penebar kesesatan dan syubhat sementara dirinya lebih mendapat hidayah dalam perkara kebenaran yang ditolaknya. <em>WaLlāhu’l musta’ān</em>.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=16&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/menerima-kebenaran-dari-orang-kafir-dan-ahli-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dakwah Salafiyyah Adalah Dakwah Keras?</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/dakwah-salafiyyah-adalah-dakwah-keras/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/dakwah-salafiyyah-adalah-dakwah-keras/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 06:57:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj & Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/dakwah-salafiyyah-adalah-dakwah-keras/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Terkadang kita dengar ucapan sebagian orang bahwa dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang keras dan mudah menghujat. Hal ini terjadi karena mereka melihat sepak terjang orang-orang yang berafiliasi kepada Salaf. Bagaimanakah yang sebenarnya? Jawab: Allah &#8216;Azza wa Jalla berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ &#8220;Dan tidaklah kami mengutus kamu (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat (kasih) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=14&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanya:</span></strong></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Terkadang kita dengar ucapan sebagian orang bahwa dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang keras dan mudah menghujat. Hal ini terjadi karena mereka melihat sepak terjang orang-orang yang berafiliasi kepada Salaf. Bagaimanakah yang sebenarnya?</span></strong></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Allah <em><span style="font-family:Arial;">&#8216;Azza wa Jalla</span></em> berfirman: </span></p>
<p dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;<em>Dan tidaklah kami mengutus kamu (wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat (kasih) bagi semesta alam</em>.&#8221; (QS. Al-Anbiyā`: 107)</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Cobat perhatikan <em><span style="font-family:Arial;">siyāq</span></em> ayat tersebut, eksistensi Nabi SAW bukan hanya sbg rahmat bagi kaum muslimin saja, namun sebagai rahmat bagi seluruh manusia, bahkan seluruh alam semesta, termasuk musuh sekalipun. Karena itu, ajaran beliau adalah ajaran kasih. Din al-Islam adalah rahmat. Hal ini tidak mungkin dipungkiri seorang muslim.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ahlus Sunnah sebagai pembawa dan penerus terbaik ajaran Nabi SAW sudah seharusnya memiliki sifat tersebut, sifat merahmati (mengasihi) dan menyebarkan rahmat (kasih). Ahlus Sunnah, adalah sebagaimana disifati oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam ucapan emasnya: <em><span style="font-family:Arial;">a&#8217;lamu bil haqq wa ar<u>h</u>amu bil khalq</span></em> (paling mengetahui al-haqq dan paling kasih terhadap makhluk). [<em>Minhāj as-Sunnah</em>, vol. V, hal. 158]</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Lantas, bagaimana dengan wajah Dakwah Salafiyyah, yang (seharusnya) merupakan sinonim dari Dakwah Ahlus Sunnah, saat ini? Ternyata, tidak dapat dipungkiri telah terbentuk stigma dan opini publik yang negatif pada banyak kaum muslimin bahwa dakwah tersebut tidak humanis, kaku, berperangai keras, mudah menghujat, dan seterusnya.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pembentukan <em><span style="font-family:Arial;">bad image</span></em> tersebut tidak lepas oleh dua faktor:</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pertama</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">: Faktor Eksternal; yaitu isu dan propaganda yang dihembuskan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai perkembangan Dakwah Salafiyyah, semisal JIL, Syi&#8217;ah, dan lain-lain.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kedua</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">: Faktor Internal; yaitu kesalahan implementasi Dakwah Salafiyyah yang dilakukan oleh orang-orang yang berafiliasi kepadanya. Hal ini merupakan realitas, ada dan nyata, yang tidak akan dipungkiri oleh orang-orang yang memiliki pemikiran objektif.</span></p>
<p><span id="more-14"></span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Mungkin dapat dikatakan bahwa penyebab utama dari terciptanya <em>bad image</em> dari faktor internal adalah terbentuknya paradigma bahwa seorang Ahlus Sunnah dituntut untuk bersikap keras kepada Ahl al-Bid&#8217;ah. Memang benar, terdapat banyak sekali atsar dan riwayat dari Salaf mengenai sikap keras kepada Ahl al-Bid&#8217;ah. Namun, pertanyaannya, siapakah yang pantas disebut Ahl al-Bid&#8217;ah? Bagaimana kriterianya? Apakah spirit yang melatarbelakangi sikap keras Salaf tersebut? Apakah sikap keras tersebut bersifat mutlak, tidak dapat diganggu gugat dan harus diimplementasikan dalam kondisi apapun, ataukah membutuhkan rincian, persyaratan dan penjelasan? Yang membuat keadaan menjadi runyam adalah munculnya mereka yang &#8216;sok meniru&#8217; sikap keras Salaf, tanpa merenungkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jika kita mengacu pada ayat al-Qur`an di atas, dan sangat banyak sekali dalil-dalil lain yang senada dengannya, kemudian ucapan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, maka dapat dikatakan bahwa sikap keras Salaf tersebut tidak keluar dari koridor semangat untuk menyebarkan kasih dan rahmat. Kasih sayang tidak selalu harus melahirkan sikap lemah lembut, dan dapat melahirkan sikap keras apabila memang kondisinya menuntut hal itu. Hal ini sebagaimana seorang ayah yang terkadang memarahi, menjewer, bahkan memukul anaknya, justru karena rasa kasihnya terhadap sang anak. Sebab sang ayah mengharap kebaikan bagi sang anak. Demikian pula dengan sikap keras Salaf terhadap Ahl al-Bid&#8217;ah. Hal itu terlahir dari kasih dan rahmat kepada kaum muslimin pada umumnya, agar tidak terkontaminasi oleh bid&#8217;ah dan tetap di atas kebenaran; sekaligus juga merupakan kasih dan rahmat kepada Ahl al-Bida&#8217;, agar mereka sadar dan berhenti dari kebid&#8217;ahan.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sikap keras terhadap Ahl al-Bid&#8217;ah juga bukanlah hal yang dapat dilakukan secara serampangan, namun harus memperhitungkan aspek maslahat dan mudharat, sebagaimana dijelaskan secara gamblang oleh Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili dalam <em>Mauqif Ahl as-Sunnah wal Jama&#8217;ah min Ahl al-Ahwa` wal Bida&#8217;</em>. Hukum asal dalam sikap antar sesama muslim adalah kasih sayang dan lemah lembut, sehingga sikap keras kepada Ahl al-Bid&#8217;ah, yang mayoritasnya masih muslim, merupakan pengecualian (<em>istitsnā`</em>) dari hukum asal, karena diharapkan adanya maslahat yang lebih besar dari sikap keras tersebut. Begitu pula dengan hukum asal kehormatan seorang muslim atas muslim lainnya, haram untuk dilanggar. Terlalu banyak dalil yang menegaskan universalitas hukum asal di atas. Karena itu, sikap keras kepada Ahl al-Bid&#8217;ah dan melanggar kehormatannya tidak dibenarkan kecuali apabila dengan hal tersebut terealisir kemaslahatan yang lebih besar.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Mungkin, dalam tataran teoritis, kita semua sepakat dengan penjelasan di atas. Namun, bagaimana dengan tataran implementatif dan aplikatif?</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dalam menyikapi banyaknya jama&#8217;ah-jama&#8217;ah yang ada saat ini, apabila semangat menyebarkan rahmat dan kasih sayang yang kita kedepankan, maka kita akan berusaha sebaik mungkin untuk mengajak manusia kepada kebenaran, dengan mempertimbangkan maslahat dan mudharat yang ada. Namun, apabila yang menjadi semangat dan latar belakang adalah bagaimana cara menghancurkan jama&#8217;ah tertentu, maka yang keluar dari kita adalah vonis dan celaan, tanpa memperhatikan komparasi antara maslahat dan mudharat di balik hal itu.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Saudara-saudara kita yang bersikap keras terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka biasanya berdalil dengan sikap keras Nabi SAW dalam sebagian kasus terhadap orang-orang tertentu. Namun mereka tidak menyadari bahwa yang sikap yang dominan dalam diri Nabi SAW adalah kasih dan lemah lembut, meskipun terhadap orang-orang yang menyelisihi beliau. Mereka seharusnya mengintrospeksi diri, jika mereka mengaku meneladani Nabi SAW, maka sudahkah sifat kasih dan lemah lembut menjadi sikap serta karakter yang dominan dalam diri dan dakwah mereka? Kalaupun Nabi SAW bersikap keras maka hal itu bersifat kasuistik, bukan hal yang dominan, dan itu pun karena dalam sikap keras Nabi SAW terdapat maslahat yang besar.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Intinya, saya ingin mengajak saudara-saudaraku sekalian untuk menjadikan semangat menyebarkan kasih (rahmat) sebagai landasan dalam dakwah mereka, sebagaimana tujuan dari diutusnya Nabi SAW. Sekaligus juga mengajak saudara-saudara mereka untuk menerapkan hal serupa. Saya melihat, bahwa orang-orang yang berafiliasi kepada manhaj Salaf lebih didominasi dengan menasehati dan meluruskan orang-orang &#8216;di luar&#8217; mereka, dibandingkan menasehati dan meluruskan &#8216;sesama&#8217; mereka dalam sebagian permasalahan yang merupakan cerminan dari kesalahan manhaj, seperti penggunaan sikap keras dalam dakwah bukan pada tempat dan kondisi yang semestinya, pemberian vonis atas individu tertentu dari orang-orang yang bukan ahlinya, fenonema fanatisme terhadap Ustadz tertentu, dan lain-lain.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Rasanya sudah saatnya kita melakukan konsolidasi dan perbaikan di kalangan internal. Sudah saatnya kita tunjukkan bahwa dakwah salaf adalah dakwah kasih (rahmat) bukan dakwah yang keras apalagi beringas.</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Semoga Allah menjadikan kita termasuk <em>al-ladzina yastami&#8217;unal qaula fa yattabi&#8217;una a<u>h</u>sanah</em> (mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya) (QS. Az-Zumar: 18)</span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">WaLlāhu a&#8217;lam bish shawab.</span></em></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Abu Faris an-Nuri</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=14&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/dakwah-salafiyyah-adalah-dakwah-keras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istri Cantik</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/istri-cantik/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/istri-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 06:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/istri-cantik/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Bagaimanakah tinjauan syara` terkait dengan keinginan seorang pria untuk memiliki istri yang cantik? Apakah hal ini tercela atau justru dianjurkan? Jawab: Merupakan fithrah manusia untuk menyukai hal yang indah. Karena itu, adalah hal yang lumrah apabila seorang lelaki mencari wanita yang menurutnya indah atau cantik. Terkadang kita jumpai sikap berlebihan (ghuluww atau ifrāth) di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=13&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanya:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Bagaimanakah tinjauan syara` terkait dengan keinginan seorang pria untuk memiliki istri yang cantik? Apakah hal ini tercela atau justru dianjurkan?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Merupakan fithrah manusia untuk menyukai hal yang indah. Karena itu, adalah hal yang lumrah apabila seorang lelaki mencari wanita yang menurutnya indah atau cantik. Terkadang kita jumpai sikap berlebihan (<em>ghuluww</em> atau <em>ifrāth</em>) di kalangan sebagian aktivis, bahwa seolah-olah menjadikan kecantikan sebagai salah satu parameter dalam memilih pasangan hidup merupakan &#8216;dosa&#8217; atau perbuatan tercela. Sebagian mereka juga &#8216;pasrah&#8217; begitu saja apabila dijodohkan oleh pembimbing agama mereka (<em>murabb<u>i</u></em>). Sikap semacam ini tentu saja bukan merupakan sikap yang tepat atau harus dilakukan. Sayangnya, ini masih cukup sering terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sesungguhnya Islam adalah agama yang mudah (<em>yusr</em>) dan toleran (<em>sam<u>h</u>ah</em>). Islam mengakomodir keinginan dan kebutuhan manusia. Hanya saja, Islam memberi batasan dan aturan dalam pemuasan kebutuhan dan keinginan tersebut, untuk mencegah terbukanya pintu-pintu kerusakan. </span></p>
<p><span id="more-13"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Islam mengakomodir fithrah dan naluri manusia untuk menyukai lawan jenisnya. Karena itu Islam membolehkan bahkan menganjurkan menikah, serta menafikan dan melarang sikap membujang (<em>tabattul</em>). Namun, di sisi lain, Islam mengecam keras perbuatan zina, yang mengakibatkan hancurnya tatanan sosial dalam masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Demikian pula halnya dalam memilih pasangan hidup. Islam mengakomodir apabila seorang pria membutuhkan wanita cantik sebagai pendamping hidupnya, selama proses yang dijalankan tidak bertentangan dengan syariah. Jika seseorang suka makan gado-gado dan tidak suka makan bakso, maka jangan dipaksa untuk makan bakso, bukankah begitu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pemaksaan &#8216;selera&#8217; dalam kehidupan rumah tangga dampaknya bisa sangat fatal, yaitu berupa ketidakharmonisan hubungan suami istri dan lain-lain. Sebagian orang menyatakan bahwa rumah tangga yang tidak harmonis termasuk &#8216;neraka dunia&#8217;. Sayangnya, ada muslimah yang kurang menyadari hal-hal tersebut. Jika ada <em>ikhwān</em> melakukan <em>nazhar</em> (melihat calon pasangan) dalam proses <em>ta`āruf</em> (saling mengenal sebelum pernikahan) lalu proses tersebut gagal karena sang muslimah dinilai belum memenuhi kriteria secara fisik, maka jadilah si <em>ikhwān</em> jadi bahan celaan. Padahal, seharusnya si akhwat tersebut berlapang dada. Sebab, jika proses tersebut dipaksakan berlanjut ke jenjang pernikahan, maka besar kemungkinan akan terjadi ketidakharmonisan dalam rumah tangga, yang dapat berbuntut perceraian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Meskipun demikian, sikap semata-mata mencari kecantikan (<em>beauty oriented</em>) juga kurang tepat. Sebab, sekedar pasangan cantik tidak menjanjikan kebahagiaan. Faktor paling krusial dalam kebahagiaan rumah tangga adalah akhlak dan keshalihan dalam beragama. Ini adalah realitas yang tidak akan dipungkiri oleh mereka yang telah mengecap kehidupan rumah tangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Abū Hurairah, Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> bersabda, </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">تُنْكَحُ المَرْأةُ لأَرْبَعِ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وجَمَالِهَا ولِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذاتِ الدين تَرِبَتْ يَدَاك</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena martabatnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah engkau mendapat wanita yang baik agamanya agar engkau beruntung dan tidak merugi.” [Riwayat al-Bukhār<u>i</u>.]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> dua pendapat di kalangan ulama dalam memahami hadits ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pendapat Pertama:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Hadits ini menunjukan bahwa seorang pria dianjurkan/disunnahkan untuk mencari istri dengan memperhatikan empat kriteria tersebut (harta, martabat, kecantikan dan agama). Ini adalah pendapat yang dipilih oleh al-<u>H</u>āfizh Ibn <u>H</u>ajar. Beliau berkata, “Sabda Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">: &#8216;<em>karena kecantikannya</em>&#8216; merupakan dalil bahwa dianjurkan untuk menikahi wanita yang jelita. Kecuali jika terjadi kontradiksi antara wanita yang cantik jelita namun tidak shalih dan wanita yang shalih namun tidak cantik jelita (maka diutamakan yang shalih meskipun tidak cantik). Jika keduanya sama dalam hal keshalihan maka yang cantik jelita lebih utama (untuk dinikahi)….” [Lihat <em>al-Fat<u>h</u></em>, vol. IX, hal. 135]. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pendapat Kedua:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Hadits tersebut hanya menyebut realitas yang terjadi di masyarakat, bahwa wanita dinikahi karena empat kriteria tadi. Dan kriteria yang dianjurkan dalam menikahi wanita hanyalah karena kebaikan agamanya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam an-Nawaw<u>i</u>. [Lihat <em>al-Minhāj Syar<u>h</u> Sha<u>h</u>ī<u>h</u> Muslim Ibn al-<u>H</u>ajjāj</em>, vol. X, hal. 51-52. Pendapat ini telah diisyaratkan oleh asy-Syaukan<u>i</u> dalam <em>an-Nail</em> vol. IX, hal. 234.]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam Ibn Qudāmah berkata, “Hendaklah ia memilih wanita yang cantik jelita agar hatinya lebih tentram serta ia bisa lebih menundukkan pandangannya dan kecintaannya (<em>mawaddah</em>) kepadanya akan semakin sempurna. Karena itulah disyari’atkan <em>nazhar</em> (melihat calon istri) sebelum dinikahi. Diriwayatkan dari Abū Bakr Ibn Mu<u>h</u>ammad Ibn `Amr Ibn <u>H</u>azm dari Rasulullah </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">, bahwa beliau bersabda, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:150%;" align="right"><span dir="rtl" style="font-size:14pt;line-height:150%;">إِنَّمَا النِّسَاءُ لُعَبٌ فَإِذَا اتَّخَذَ أَحَدُكُمْ لُعْبَةً فَلْيَسْتَحْسِنْهَا</span><span dir="ltr"></span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Para wanita itu ibarat mainan, maka jika salah seorang dari kalian hendak mengambil sebuah mainan maka hendaknya ia memilih mainan yang baik (yang cantik).&#8221; [Hadits ini dinyatakan tidak valid oleh Syaikh al-Albān<u>i</u> dalam <em>adh-Dha’īfah</em> no. 462. Lihat <em>al-Mughnī</em> vol. VII, hal. 82.]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam al-Munāw<u>i</u> berkata, “Jika pernikahan disebabkan dorongan kecantikan maka pernikahan ini akan lebih langgeng dibandingkan jika yang mendorong pernikahan tersebut adalah harta sang wanita, karena kecantikan adalah sifat yang senantiasa ada pada sang wanita adapun kekayaan adalah sifat bisa (lebih mudah) hilang dari sang wanita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Namun, sebagian Salaf tidak suka untuk menikahi wanita yang terlalu cantik. Imam al-Munāw<u>i</u> berkata, “Salaf membenci wanita yang terlalu cantik karena hal itu (dapat) menimbulkan sikap kesewenangan pada diri wanita, yang akhirnya mengantarkannya kepada sikap perendahan sang pria.”<span class="MsoFootnoteReference"> </span>[<em>Faidhu'l Qadīr</em> vol. III, hal. 271.]<strong><span dir="rtl"></span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> hadits yang menunjukan larangan menikahi wanita karena motivasi selain agama. Dari Abdu&#8217;Llah Ibn `Amr, Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> bersabda</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لاَ تُنكِحوا النساءَ لِحُسْنِهن فَلَعَلَّهُ يُرْدِيْهِنَّ، ولا لِمَالِهِنَّ فَلَعَلَّهُ يُطْغِيْهِنَّ وانكحوهن للدين. وَلَأَمَةٌ سوداء خَرْمَاءُ ذاتُ دِينٍ أَفْضَلُ</span><strong><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Janganlah kalian menikahi para wanita karena kecantikan. Sebab bisa jadi kecantikan menjerumuskan mereka dalam kebinasaan. Dan janganlah kalian menikahi para wanita karena harta, karena bisa jadi harta menjadikan mereka berbuat hal-hal yang melampaui batas. Namun nikahilah para wanita karena agama mereka. Sesungguhnya seorang budak wanita yang hitam dan terpotong sebagian hidungnya dan dengan telinga yang berlubang namun agamanya baik itu lebih baik (untuk dinikahi).” [Riwayat Ibn Mājah, al-Bazzār dan al-Baihaqi.] </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Namun hadits ini tidak valid, tidak dapat dijadikan hujjah. [Sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh al-Albān<u>i</u> dalam <em>adh-Dha’īfah</em> vol. III, hal. 172, dan <em>Dhaī'fu'l Jāmi`</em> no. 6216.]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penting untuk diperhatikan, sebaiknya seorang pria menanyakan atau mencari tahu tentang kecantikan calon istri sebelum agamanya. Imam A<u>h</u>mad berkata, “Jika seseorang ingin meminang seorang wanita maka hendaklah yang pertama kali ia tanyakan adalah kecantikannya. Jika dipuji kecantikannya maka ia bertanya tentang agamanya. Jika kecantikannya tidak dipuji maka ia menolak wanita tersebut bukan karena agamanya namun karena kecantikannya.” [<em>Syar<u>h</u> Muntahā'l<span>  </span>Iradāt</em>, vol. II, hal. 623.]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Perkataan Imam A<u>h</u>mad tersebut menunjukan tingginya fiqh dan pemahaman beliau. Sebab jika yang pertama kali ditanyakan adalah tentang agama si wanita, lalu dikabarkan kepadanya bahwa yang bersangkutan adalah wanita yang shalih, akan tetapi kemudian setelah dilihat ternyata secara fisik si wanita jauh di bawah harapan si pria, sehingga ia tidak jadi menikahi wanita tersebut, maka berarti si pria telah meninggalkan wanita tersebut padahal ia telah mengetahui bahwa wanita itu adalah wanita yang shalih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Namun sekali lagi penting untuk ditekankan bahwa kecantikan adalah hal yang relatif. Terkadang seorang wanita sangat cantik menurut pria tertentu, namun ternyata tidak demikian menurut pria yang lain. Di samping itu, kriteria akhlak dan keshalihan agama lebih penting untuk ditekankan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> saudara kita yang berumah tangga dan telah dikaruniai anak. Istrinya cantik. Keturunan Arab. Konon, adalah yang paling cantik di daerahnya dan menjadi idaman para pemuda di lingkungannya. Saudara kita ini merasa bangga bisa mendapatkannya. Namun, pada suatu <span> </span>perbincangan dia bertutur memberikan wejangan. Kira-kira demikian inti ceritanya: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">&#8220;Kita memang harus percaya dengan hadits Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> tentang dinikahinya wanita karena empat perkara. Benarlah anjuran untuk wanita karena agamanya. Sungguh kecantikan istri kita itu akan memudar atau kita akan merasa terbiasa, bahkan mungkin kita bosan. Setiap saat, setiap hari, kita melihat dan berjumpa dengannya. Akibatnya, kecantikan yang dulu terasa istimewa itu menjadi biasa. Bahkan, tak jarang kita akan melihat bahwa wanita lain terasa jauh lebih cantik darinya. Belakangan ini kami sering bertengkar, terutama ketika ia diingatkan tentang perkara agama. Maka, berusahalah untuk mencari istri yang baik dari sisi agamanya, niscaya akan datang ketenangan dan kebaikan dalam rumah tangga.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kemudian saudara kita tersebut menuturkan kisah salah seorang sahabatnya yang dikenalkan kepada kebenaran oleh istrinya. Dia begitu setia mengajari dan senantiasa melayani dengan tulus serta ikhlas untuk mengabdi pada sang suami, sehingga tiba suatu masa di mana si istri sampai mengatakan, &#8220;Silakan jika ingin <em>ta’addud</em> (poligami). Bila perlu akan saya bantu untuk mencarikan.&#8221; Ternyata, si suami sama sekali tidak tertarik, karena merasa istri tercintanya tersebut sudah demikian istimewa, sedangkan belum tentu ia akan mendapatkan yang semisal dari istri kedua.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Walhasil, mencari istri cantik itu perlu. Tapi jangan lengah terhadap kriteria lain yang lebih utama, yakni keshalihan dan agama. Kata orang: Kita sedang mencari teman hidup, bukan teman tidur. Menikah itu &#8216;bersenyawa&#8217;, bukan sekedar bersetubuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pada diri manusia ada dua kebutuhan yang harus terpenuhi. Kebutuhan lahir dan kebutuhan batin. Menurut saya, kecantikan itu lebih terkait dengan pemenuhan kebutuhan lahir, sedangkan keshalihan itu lebih terkait dengan pemenuhan kebutuhan batin. Selanjutnya, kecantikan yang lebih bersifat lahir itu erat kaitannya dengan nafsu, sementara keshalihan yang lebih bersifat batin itu erat kaitannya dengan cinta dan kasih sayang. Idealnya, kebutuhan lahir dan batin, cinta dan nafsu, terkumpul dalam diri satu orang yang bernama &#8216;istri&#8217;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan kata orang: &#8220;Untuk istri pertamamu, maka carilah wanita yang benar-benar mengerti agama. Sebab dengan demikian engkau tidak akan kesulitan untuk mencari istri kedua.&#8221; He he….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Salam,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Abū Fāris an-Nūr<u>i</u></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jakarta</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">, 02 Nov 2007</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">NB:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Bahan untuk menyusun tulisan ini adalah sebuah pembahasan ilmiah yang pernah diberikan oleh sahabat dan saudara saya yang mulia, Ustadz Firanda. Juga tulisan serupa yang dimuat dalam situs: salafyitb.wordpress.com oleh saudara dan kawan saya, Ustadz Abu Umair.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=13&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/istri-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lailatu&#8217;l Qadr</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/lailatul-qadr/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/lailatul-qadr/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 05:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seputar Puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/lailatul-qadr/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Apakah Lailatul Qadr masih berlaku di zaman ini? Jika masih berlaku, maka kapankah waktunya, dan apa tanda-tandanya? Apa keutamaan Lailatul Qadar dan apa yang kita lakukan apabila mendapatinya? Jawab: Terdapat berbagai pendapat mengenai Lailatul Qadr dan penentuan waktunya, bahkan mencapai lebih dari 40 pendapat, sebagaimana dinyatakan oleh al-Hāfizh Ibn Hajar dalam Fathul Bāri [vol. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=12&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"></span><br />
<strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanya:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Apakah Lailatul Qadr masih berlaku di zaman ini? Jika masih berlaku, maka kapankah waktunya, dan apa tanda-tandanya? Apa keutamaan Lailatul Qadar dan apa yang kita lakukan apabila mendapatinya?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Terdapat berbagai pendapat mengenai Lailatul Qadr dan penentuan waktunya, bahkan mencapai lebih dari 40 pendapat, sebagaimana dinyatakan oleh al-<u>H</u>āfizh Ibn <u>H</u>ajar dalam <em>Fat<u>h</u>ul Bār<u>i</u></em> [vol. IV, hal. 262]. Imam al-&#8217;Irāq<u>i</u> juga telah mengarang satu risalah khusus berjudul <em>Syar<u>h</u> ash-Shadr bi Dzikr Lailatil Qadr</em> yang menyebutkan perkataan para ulama dalam masalah ini. Pada kesempatan kali ini kami hanya akan membawakan sebagian dari pendapat yang dibawakan oleh Ibn <u>H</u>ajar:</span></p>
<p><span id="more-12"></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pertama:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Malam Lailatul Qadr telah diangkat/dihapuskan, yaitu hukumnya hanya berlaku pada malam terjadinya hal tersebut dan tidak berlaku lagi sesudahnya. Pendapat ini dinisbatkan kepada Syī&#8217;ah Rāfidhah dan sebagian kalangan madzhab <u>H</u>anaf<u>i</u>. Dinukil dari Abū Hurairah bahwa beliau mengingkari pendapat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kedua:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Lailatul Qadr hanya berlaku khusus pada satu tahun tertentu pada zaman Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">. Pendapat ini disebutkan oleh al-Fākihān<u>i</u>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ketiga:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Lailatul Qadr dimungkinkan terjadi pada keseluruhan tahun (tidak hanya di bulan Ramadhān). Pendapat ini masyhur di kalangan madzhab <u>H</u>anaf<u>i</u>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Keempat:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Lailatul Qadr berlaku di bulan Ramadhān dan dimungkinkan berlaku pada malam tertentu dari seluruh malam Ramadhān. Pendapat ini dipegang oleh Ibn &#8216;Umar, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abī Syaibah dalam <em>Mushannaf</em>-nya, juga Abū <u>H</u>anīfah, Ibnu&#8217;l Mundzir dan as-Subk<u>i</u>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kelima:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Lailatul Qadr adalah malam pertengahan bulan Ramadhān. Pendapat ini dikutip oleh Sirāju&#8217;d Dīn Ibnu&#8217;l Mulaqqīn, guru Ibn <u>H</u>ajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Keenam:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Lailatul Qadr terdapat pada pertengahan akhir bulan Ramadhān. Pendapat ini dikutip dalam <em>Syar<u>h</u> as-Suruji</em>, dari <em>al-Mu<u>h</u>īth</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ketujuh:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Lailatul Qadr terdapat pada malam tertentu dari sepuluh pertengahan bulan Ramadhān. Pendapat ini disebutkan oleh an-Nawaw<u>i</u> dan ath-Thabar<u>i</u> menisbatkannya kepada `Utsmān Ibn Abī&#8217;l `Āsh dan al-<u>H</u>asan al-Bashr<u>i</u> serta dipegang oleh sebagian madzhab Syafi`<u>i</u>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kedelapan:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Lailatul Qadr jatuh pada sepertiga akhir dari Ramadhān dan senantiasa berpindah-pindah setiap tahunnya. Pendapat ini dipegang oleh Abū Qilābah, Mālik, Is<u>h</u>aq, ats-Tsaur<u>i</u> dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kesembilan:</span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> Pendapat-pendapat yang menyebutkan bahwa Lailatul Qadr jatuh pada malam tertentu dari bulan Ramadhān: Malam ke-17: Zaid Ibn Arqam, sebagaimana diriwayatkan Ibn Abī Syaibah dan ath-Thabrān<u>i</u>. Beliau menyatakan bahwa malam tersebut adalah malam diturunkannya al-Qur&#8217;ān. Hal senada juga diriwayatkan dari Ibn Mas`ūd. Malam ke-19: `Ali Ibn Abī Thālib, sebagaimana diriwayatkan oleh &#8216;Abdu&#8217;r Razzāq, dan ath-Thabar<u>i</u> juga menisbatkannya kepada Zaid Ibn Tsābit serta Ibn Mas`ūd. Malam ke-23: Mu&#8217;āwiyah, Ibn &#8216;Abbās, Sa&#8217;īd Ibnu&#8217;l Musayyib dan lain-lain. Malam ke-27: Pendapat Imam A<u>h</u>mad dan satu riwayat dari Abū <u>H</u>anīfah, Abū Hurairah, &#8216;Umar, <u>H</u>udzaifah dan lain-lain. Bahkan Ubay Ibn Ka&#8217;b sampai bersumpah untuk itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pendapat paling terakhir juga dipegang oleh Syaikh al-Albān<u>i</u> [lihat mis: <em>Qiyām Ramadhān</em>, hal. 12]. Mungkin hal ini juga didasarkan dari pengamatan beliau selama bertahun-tahun. Sependek pengalaman kami, maka kami juga memiliki kecenderungan untuk sependapat dengan beliau. Syaikh as-Sayyid Sābiq juga mengatakan bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa penentuan Lailatul Qadr jatuh pada malam ke-27. Kemudian beliau membawakan riwayat yang menguatkan hal tersebut. [<em>Fiqh as-Sunnah</em> vol. I, hal. 595]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dalam menentukan malam ke-27, ada juga yang berdalil sebagai berikut: kata Lailatul Qadr terdiri dari 9 huruf dan diulang sebanyak 3 kali dalam surat al-Qadr, sehingga totalnya berjumlah 27 [<em>Fat<u>h</u>u'l Bārī</em>, vol. IV, hal. 265]. Tentu semua ini tidak terjadi secara kebetulan, namun apakah benar hal tersebut mengisyaratkan penentuan waktu Lailatul Qadr di bulan Ramadhān? <em>WaLlāhu a&#8217;lam bish shawāb</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Masih banyak pendapat lain di kalangan ulama terkait hal ini, juga argumen dan dalil mereka, yang tidak kami sebutkan di sini. Barangsiapa yang menginginkan keluasan dalam masalah ini hendaklah merujuk kepada <em>Fat<u>h</u>u&#8217;l Bārī</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Namun, berikut akan kami sebutkan sejumlah dalil terkait permasalahan yang tengah dibahas, sebelum kami sebutkan kesimpulan dan pendapat kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari ‘Āisyah, bahwa Nabi ` bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">تَحَرّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Carilah malam Lailatul Qadr di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” [HR. Al-Bukhār<u>i</u> II/710/1913 dan Muslim II/828/1169]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Ibn &#8216;Umar, Nabi ` bersabda: “Carilah Lailatul Qadr pada tujuh hari terakhir.” [HR. Al-Bukhār<u>i</u> VI/2565/6590 dan Muslim II/822/1165]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Ibn &#8216;Umar, Nabi ` bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Arial;">مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرِّهَا لَيْلَةَ سَبْع وَعِشْرِيْن</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Barangsiapa yang mencari malam Lailatul Qadr maka hendaklah ia mencari pada malam kedua puluh tujuh.&#8221; [HR. A<u>h</u>mad II/27/4808, dengan sanad yang shahih]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Sahabat Ubay Ibn Ka&#8217;b, beliau berkata, </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Arial;">وَوَالله إِنِّي لأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ، هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللّهِ بِقِيَامِهَا. هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ. وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mengetahui Lailatul Qadr. Ia adalah malam di mana Rasulullah ` memerintahkan kami untuk melakukan shalat padanya, yaitu malam ke-27. Tandanya adalah pada pagi harinya matahari tampak berwarna putih dengan pancaran sinar yang tidak menyengat.&#8221; [HR. Muslim I/525/762, dan lain-lain]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kesimpulan dan pendapat kami, apabila seseorang ingin mencari malam Lailatul Qadr, maka hendaklah ia mencarinya di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir. Jika tidak mampu, maka hendaklah ia mencari di malam ganjil pada tujuh hari terakhir. Dan, jangan sampai yang bersangkutan melewatkan malam ke-27, sebab malam tersebut adalah malam yang paling diharap sebagai Lailatul Qadr. <em>WaLlāhu a&#8217;lam bish shawāb</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanda-Tanda Lailatul Qadr</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Ubay, Rasulullah ` bersabda, </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Tanda Lailatul Qadr pagi harinya matahari tampak putih dengan sinar yang tidak menyengat.” [HR. Muslim I/525/762]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Ibn &#8216;Abbas, Nabi ` berkata: </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لاَ حَارَّةَ وَلاَ بَارِدَةَ تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيْحَتَهَا ضَعِيْفَةً حَمْرَاءَ</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span><span> </span>“(Malam) Lailatul Qadr adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah dan kemerah-merahan.” [HR. Ath-Thayālis<u>i</u> no. 2680, Ibnu Khuzaimah III/331, al-Baihaqi dalam <em>Syu'abul Iman</em> III/334/3693, dengan sanad yang valid]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:left;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Keutamaan Malam Lailatul Qadr</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Allah <em>`azza wa jalla</em> berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">۳</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">﴾</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾ سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;<em>Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur&#8217;ān) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar</em>.&#8221; [QS. Al-Qadr: 1 - 5]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Cukuplah sebagai keagungan dan kemuliaan Lailatul Qadr bahwa Allah menyebutkan pada malam tersebut al-Qur&#8217;ān diturunkan dan malam itu lebih baik dibandingkan seribu bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Yang dimaksud dengan turunnya al-Qur&#8217;ān pada Lailatul Qadr adalah sebagaimana ditafsirkan oleh Ibn &#8216;Abbās, yaitu al-Qur&#8217;ān secara keseluruhan dan sekaligus turun dari <em>al-Lau<u>h</u>u&#8217;l Mahfūzh</em> ke langit dunia, dan barulah kemudian diturunkan secara ayat per ayat kepada Nabi </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Islamic_;">`</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> sesuai dengan perkembangan peristiwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pada malam tersebut dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Allah berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span> </span></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span><span dir="rtl"></span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="rtl"></span>﴿</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">۳</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">﴾ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ</span><span dir="ltr"></span><span dir="ltr" style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span dir="ltr"></span> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ﴿٦﴾</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;<em>Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu diperinci segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kamilah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Rabbmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui</em>.&#8221; [QS. Ad-Dukhān: 3 - 6]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Memanfaatkan Lailatul Qadr</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Rasulullah ` bersabda,</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَاناً وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari II/709/1910 dan Muslim I/523/760)</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Disunnahkan untuk memperbanyak doa pada malam tersebut. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, beliau berkata : “Aku bertanya, &#8216;Ya Rasulullah `, menurut Baginda, sekiranya aku mengetahui kapan malam Lailatul Qadr terjadi, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab, </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Arial;">اللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“<em>Allāhumma innaka ‘afuwwun tu<u>h</u>ibbul ‘afwa fa’fu ‘annī</em>. (Ya Allah, Engkaulah Sang Maha Pemaaf dan mencintai orang yang meminta maaf, maka maafkanlah aku).” [HR. At-Tirmidz<u>i</u> V/534/3513, Ibn Mājah II/1265/3850, dan lain-lain, dengan sanad yang shahih]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dari Aisyah, beliau berkata, </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">كَانَ النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>“Adalah Rasulullah ` apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi istri-istrinya dan bersungguh-sungguh beribadah dalam rangka mencari Lailatul Qadr), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” [HR. Al-Bukhar<u>i</u> II/171/1920 dan Muslim II/832/1174]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Juga dari ‘Aisyah, beliau berkata, “Adalah Rasulullah ` bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” [HR. Muslim II/832/1174]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Demikian, semoga ada manfaatnya. <em>WaLlāhu a&#8217;lam bish shawāb</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=12&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/11/29/lailatul-qadr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senantiasa Menggunakan Khuthbatul Hajah?</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/senantiasa-menggunakan-khuthbatul-hajah/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/senantiasa-menggunakan-khuthbatul-hajah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 08:27:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa2 & Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/senantiasa-menggunakan-khuthbatul-hajah/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Terkadang didapati sebagian penceramah yang senantiasa membuka ceramahnya dengan Khuthbatul Hājah, sudah tepatkah sikap semacam ini? Jawab: Kadang memang kita dapati ustadz atau penulis yang senantiasa membuka khuthbah, ta&#8217;līm dan tulisan ilmiah mereka dengan Khuthbatul Hājah yang tercantum dalam hadits Ibn Mas&#8217;ūd: innal hamda liLlāh nahmaduhu wa nasta&#8217;īnuhu wa nastaghfiruh… (sesungguhnya segala puji adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=8&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tanya: </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Terkadang didapati sebagian penceramah yang senantiasa membuka ceramahnya dengan Khuthbatul <u>H</u>ājah, sudah tepatkah sikap semacam ini?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kadang memang kita dapati ustadz atau penulis yang senantiasa membuka khuthbah, <em>ta&#8217;līm</em> dan tulisan ilmiah mereka dengan <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> yang tercantum dalam hadits Ibn Mas&#8217;ūd: <em>innal <u>h</u>amda liLlāh na<u>h</u>maduhu wa nasta&#8217;īnuhu wa nastaghfiruh</em>… (sesungguhnya segala puji adalah milik Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada-Nya…).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal ini populer setelah al-&#8217;Allāmah Mu<u>h</u>ammad Nashiruddīn al-Albān<u>i</u>—<em>ra<u>h</u>imahuLlāh</em>—menulis risalah yang berjudul <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em>. Pada risalah tersebut Syaikh menegaskan signifikansi untuk memulai khuthbah, tulisan dan yang semisalnya dengan <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em>. Beliau juga menyebutkan bahwa hal ini termasuk sunnah yang telah ditinggalkan oleh banyak orang (<em>sunan mahjūrah</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saya pribadi sudah lama menerjemahkan risalah dimaksud atas permintaan salah satu penerbit, namun <em>qaddaruLlāh</em> sampai saat ini belum diterbitkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hanya saja, pada kalangan sebagian (kecil) orang seolah-olah kemudian timbul pandangan yang sedikit &#8220;miring&#8221; terhadap orang yang berbicara atau menulis yang melakukan pembukaan dengan selain <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> dimaksud, bahwa mereka tidak &#8220;<em>nyunnah</em>&#8221; dan semisalnya. Bahkan, terkadang bisa jadi hal tersebut dijadikan sebagai salah satu parameter atau penanda untuk menilai <em>manhaj</em> yang bersangkutan dalam beragama. Apa yang saya sebutkan ini bukan mengada-ada, tapi realitas, meskipun bisa jadi dalam jumlah yang relatif sangat kecil. Menurut saya, hal ini adalah bukanlah sikap yang tepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Selanjutnya, terkait inti pertanyaan, apakah benar bahwa yang disunnahkan adalah senantiasa (ber-<em>iltizām</em>) membuka khuthbah, tulisan, <em>ta&#8217;līm</em>, dan yang semisalnya dengan <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> tersebut? Maka saya bawakan pendapat Syaikh Bakr Abū Zaid terkait permasalahan ini.</span></p>
<p><span id="more-8"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Syaikh Bakr Ab</span><span dir="rtl" style="font-size:10pt;font-family:Arial;">ū</span><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span> Zaid berkata dalam <em>Tash-<u>h</u>ī<u>h</u> ad-Du’ā`</em>: [</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Hal. 454-455; Dār al-‘Āshimah, Riyādh, cet. pertama, 1419 H/1999 M]</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">&#8220;Di antara perkara-perkara yang diada-adakan (<em>mu<u>h</u>datsāt</em>; bid’ah) dalam khuthbah Jum’at adalah senantiasa melazimkan diri (ber-<em>iltizām</em>) untuk membuka khuthbah Jum’at dengan <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> yang tercantum dalam hadits Ibn Mas’ūd: <em>innal <u>h</u>amda liLlāh na<u>h</u>maduhu wa nasta&#8217;īnuhu</em>&#8230; (sesungguhnya segala puji adalah milik Allah; kami memuji-Nya, meminta kepada-Nya…).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Herannya, hadits Ibn Mas’ūd—<em>radhiyaLlāhu &#8216;anhu</em>—tersebut diriwayatkan oleh para penyusun kitab <em>Sunan</em>, dimana mereka memasukkan <em>tarjamah</em>-nya ke dalam kitab Nikah. Kecuali an-Nasā`<u>i</u>, beliau juga memasukkannya ke dalam kitab Shalat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">[</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penerjemah (Abū Fāris) berkata: Yaitu pada kitab <em>al-Jumu’ah</em>, bab <em>Kaifiyyah al-Khuthbah</em>, III/104/1404]</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan barangsiapa yang meneliti petunjuk Nabi <em>shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam</em> niscaya ia tidak melihat kelaziman pembukaan khuthbah Nabi <em>shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam</em> dengan <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> dimaksud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Khuthbatul <u>H</u>ājah</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> tersebut mengandung dan merupakan pujian yang agung, dimana Nabi <em>shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengajarkannya kepada para sahabat beliau. Namun kita tidak melihat pada perbuatan beliau, juga pada petunjuk rutin para sahabat beliau, hal yang mengindikasikan kelaziman <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> dimaksud pada khuthbah-khuthbah mereka, juga pada permulaan urusan-urusan mereka. Demikian pula yang dapat Anda saksikan pada ulama Islam yang terpercaya. Termasuk Syaikhul Islām Ibn Taimiyyah. Beliau terkadang membuka buku-buku dan fatwa-fatwa beliau dengan <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> tersebut dan terkadang dengan selainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh sebab itu, apa yang Anda dengar dan saksikan pada zaman ini, bahwa sebagian penulis melazimkan diri (<em>iltizām</em>) untuk membuka risalah-risalah dan khuthbah-khuthbah mereka dengan <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> tersebut, maka semua itu merupakan kelaziman yang tidak saya ketahui dalam kehidupan ilmiah pada petunjuk Nabi <em>shallaLlāhu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat beliau, serta tidak pula pada generasi setelah mereka dari kalangan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Barangsiapa yang mengklaim kelaziman dimaksud maka hendaklah ia mendatangkan bukti (dalil).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan penjelasan dan penegasan ini, Anda mengetahui fiqh para penyusun kitab Sunan—semoga Allah merahmati mereka—ketika memasukkan <em>tarjamah</em> <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> ke dalam kitab Nikah, serta penegasan ulama tentang disyari’atkannya (dianjurkannya untuk mengucapkan) <em>Khuthbatul <u>H</u>ājah</em> di depan akad Nikah. <em>WaLlāhu a’lam</em>.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian pernyataan Syaikh Bakr Abū Zaid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">WaLlāhu a&#8217;lam bish shawāb</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Salam,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adni</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=8&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/senantiasa-menggunakan-khuthbatul-hajah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jika Dua Suami Masuk Surga, Istri dengan Siapa?</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/jika-dua-suami-masuk-surga-istri-dengan-siapa/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/jika-dua-suami-masuk-surga-istri-dengan-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 07:40:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hari Akhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/jika-dua-suami-masuk-surga-istri-dengan-siapa/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Jika seorang wanita shalihah yang sempat menikah dua kali semasa di dunia masuk surga, dan ternyata kedua suaminya pun masuk surga, maka siapakah yang akan bersama wanita tersebut? Jawab: Apabila wanita tersebut pernah memiliki memiliki lebih dari satu suami di dunia, dan hanya satu dari suaminya yang masuk surga, maka wanita itu akan bersama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=7&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanya:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jika seorang wanita shalihah yang sempat menikah dua kali </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">semasa di dunia </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">masuk surga, dan ternyata kedua suaminya pun masuk surga, maka siapakah yang akan bersama wanita tersebut?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Apabila wanita tersebut pernah memiliki memiliki lebih dari satu suami di dunia, dan hanya satu dari suaminya yang masuk surga, maka wanita itu akan bersama suaminya yang masuk surga. Namun, bagaimana sekiranya seluruh suaminya masuk surga? Sependek pengetahuan kami, setidaknya terdapat dua pendapat di kalangan ulama dalam hal ini:</span></p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pendapat Pertama: Wanita Tersebut Memilih Suami yang Dikehendakinya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Syaikh Mu<u>h</u>ammad al-&#8217;Utsaymīn pernah ditanya, &#8220;Jika seorang wanita pernah memiliki dua orang suami di dunia (suami pertama meninggal dunia lalu wanita tersebut menikah lagi, kemudian kedua suami dan wanita tersebut masuk surga), maka siapakah yang akan bersama wanita tadi?&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Beliau menjawab, &#8220;Jika seorang wanita memiliki dua orang suami di dunia, maka pada hari kiamat ia akan diperintahkan untuk memilih (salah satu) di antara keduanya di surga. Dan apabila wanita itu belum menikah di dunia, maka Allah akan menikahkannya dengan orang yang akan menjadi penyejuk mata baginya di surga. Kenikmatan surga tidaklah terbatas untuk pria, akan tetapi mencakup pria dan wanita, dan di antara kenikmatan tersebut adalah pernikahan.&#8221; [<em>Fatāwa al-'Aqīdah</em>, hal. 313]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pendapat Kedua: Wanita Tersebut Bersama Suaminya yang Terakhir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pendapat yang paling kuat dalam hal ini—<em>insya Allah</em>—dan didukung oleh hadits serta <em>atsar</em> adalah, ketika di surga, wanita mukminah akan bersama dengan suami terakhirnya di dunia. [Lihat <em>al-Jannah wan Nār</em>, Dr. 'Umar Sulaimān al-Asyqar, hal. 245-246]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Nabi ` bersabda,</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;color:black;">الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Seorang wanita adalah untuk suaminya yang terakhir.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">[Lihat <em>Sha<u>h</u>ī<u>h</u> al-Jāmi'</em>, no. 6691; dan <em>ash-Sha<u>h</u>ī<u>h</u>ah</em>, no. 1281]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam ath-Thabrān<u>i</u> meriwayatkan, bahwa Mu&#8217;āwiyah pernah meminang Ummu ad-Dardā` setelah Abū ad-Dardā` meninggal dunia. Maka Ummu ad-Dardā` berkata, &#8220;Sesungguhnya aku pernah mendengar Abū ad-Dardā` menyebutkan bahwa Rasulullah ` bersabda, &#8216;Siapa saja wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, lalu ia menikah lagi, maka ia diperuntukkan bagi suaminya yang terakhir.&#8217; [Hadits ini dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albān<u>i</u> dalam <em>Sha<u>h</u>ī<u>h</u> al-Jāmi'</em>, no. 2704] Dan tidaklah aku lebih memilihmu dibandingkan Abū ad-Dardā`.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">[<em>Al-Mu'jam al-Ausath</em> (III/275) no. 3130]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam al-Baihaq<u>i</u> meriwayatkan, bahwa <u>H</u>udzaifah berkata kepada istrinya, &#8220;Jika engkau ingin untuk menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah lagi sepeninggalku. Sebab wanita di surga itu diperuntukkan bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karena itulah Allah mengharamkan istri-istri Nabi ` untuk menikah lagi sepeninggal beliau, sebab mereka adalah istri-istri beliau di surga.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">[<em>Sunan al-Baihaq<u>i</u> al-Kubrā</em> (VII/69) no. 13199]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Imam Ibn Sa&#8217;d meriwayatkan, bahwa Asmā` pernah mengadukan sikap keras suaminya, az-Zubair Ibn al-&#8217;Awwām, kepada ayahnya, Abū Bakr. Maka Abū Bakr berkata, &#8220;Wahai puteriku, bersabarlah. Sebab apabila seorang wanita memiliki suami yang shalih lalu si suami meninggal dunia dan ia tidak menikah lagi, niscaya Allah akan mengumpulkan keduanya di surga.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">[<em>Ath-Thabaqāt al-Kubrā</em> (VIII/251). Lihat pula <em>ash-Sha<u>h</u>ī<u>h</u>ah</em>, penjelasan hadits no. 1281]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Penting untuk diingat kembali, bahwa di surga tidak ada kesedihan dan kegundahan, hanya ada suka cita dan kegembiraan. Karena itu, <strong>meskipun seorang wanita di surga akan bersanding suaminya yang terakhir—padahal bisa jadi ketika di dunia ia lebih mencintai suaminya yang lain—namun ia tetap akan bahagia dan bersuka cita</strong>. <em>Wallāhu a&#8217;lam</em>.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=7&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/jika-dua-suami-masuk-surga-istri-dengan-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bidadara Bagi Wanita Penghuni Surga</title>
		<link>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/bidadara-bagi-wanita-penghuni-surga/</link>
		<comments>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/bidadara-bagi-wanita-penghuni-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 07:36:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hari Akhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/bidadara-bagi-wanita-penghuni-surga/</guid>
		<description><![CDATA[Tanya: Jika seorang wanita yang shalihah masuk surga namun suaminya tidak masuk surga, apakah ia akan menikah dengan &#8216;bidadara&#8217;? Jawab: Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan nukilkan fatwa salah seorang ulama terkemuka di zaman ini, Syaikh al-&#8217;Utsaymīn. Syaikh Muhammad al-&#8217;Utsaymīn pernah ditanya, &#8220;Jika seorang wanita dari kalangan ahli surga belum pernah menikah di dunia, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=6&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanya:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jika seorang wanita yang shalihah masuk surga namun suaminya tidak masuk surga, apakah ia akan menikah dengan &#8216;bidadara&#8217;?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jawab:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan nukilkan fatwa salah seorang ulama terkemuka di zaman ini, Syaikh al-&#8217;Utsaymīn.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Syaikh Muhammad al-&#8217;Utsaymīn pernah ditanya, &#8220;Jika seorang wanita dari kalangan ahli surga belum pernah menikah di dunia, atau ia menikah namun suaminya tidak masuk surga, maka siapakah yang akan bersama wanita itu (di surga)?&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Beliau menjawab, &#8220;Jawaban atas pertanyaan ini dapat diambil dari keumuman firman Allah <em>Ta&#8217;ālā</em>:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نُزُلاً مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيم</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Dan bagi kamu di dalamnya (akhirat) apa yang kamu inginkan dan bagi kamu (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; (QS. Fushshilat [41]: 31-32)</span></p>
<p><span id="more-6"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Juga dari (keumuman) firman Allah <em>Ta&#8217;ālā</em>:</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:16pt;line-height:150%;">وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُون</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span dir="ltr"></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><span dir="ltr"></span>&#8220;Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.&#8221; (QS. Az-Zukhruf [43]: 71)<span dir="rtl"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Jika seorang wanita termasuk ahli surga dan ia belum pernah menikah (di dunia), atau ternyata suaminya (di dunia) tidak termasuk ahli surga, maka apabila wanita itu memasuki surga niscaya ia akan mendapati bahwa di surga ada pria-pria yang juga belum menikah (di dunia), yang mana pria-pria tersebut memiliki istri-istri dari kalangan bidadari dan wanita-wanita dunia—jika mereka menghendaki dan jiwa mereka menginginkan hal itu. Maka begitu pula yang kita katakan terkait dengan wanita tadi—(yaitu) apabila ia belum memiliki suami (di dunia) atau ia memiliki suami di dunia namun suaminya tidak masuk surga bersamanya—bahwa apabila ia ingin menikah maka ia pasti akan mendapatkan apa yang ia inginkan tersebut, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas. Pada saat ini saya belum mendapati nash yang khusus dalam permasalahan ini, dan ilmu adalah milik Allah <em>Ta&#8217;ālā</em>.&#8221; [<em>Fatāwa al-'Aqīdah</em>, hal. 312]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Dalam kesempatan lain beliau berkata, &#8220;Termasuk hal yang umum diketahui bahwa pernikahan termasuk perkara yang paling diinginkan oleh jiwa, dan hal ini terealisir bagi penduduk surga, baik laki-laki maupun wanita.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Beliau juga berkata, &#8220;Hanyalah disebutkan istri-istri bagi para lelaki, sebab lelaki adalah pihak yang mencari dan menginginkan wanita. Karena itulah hanya disebutkan istri-istri bagi para lelaki di surga dan tidak disebutkan suami-suami bagi para wanita. Namun hal ini bukan berarti para wanita tersebut tidak memiliki suami (di surga), bahkan wanita-wanita tersebut memiliki suami-suami dari kalangan anak Adam.&#8221; [<em>Fatāwa al-'Aqīdah</em>, hal. 313]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"><br />
</span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tanyasyariah.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tanyasyariah.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tanyasyariah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tanyasyariah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tanyasyariah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tanyasyariah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tanyasyariah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tanyasyariah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tanyasyariah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tanyasyariah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tanyasyariah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tanyasyariah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tanyasyariah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tanyasyariah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tanyasyariah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tanyasyariah.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tanyasyariah.wordpress.com&amp;blog=1829840&amp;post=6&amp;subd=tanyasyariah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tanyasyariah.wordpress.com/2007/10/05/bidadara-bagi-wanita-penghuni-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4d5a8533c685b09ff3d86ef582a17107?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tanyasyariah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
